Panggilan Gendut Oleh Pasangan Termasuk Kekerasan Dalam Pacaran ?

Sumber : https://lerablog.org/home-and-family/family-life/dating-relationships/7-ways-to-recover-from-an-unhealthy-relationship/

Kekerasan dalam pacaran atau Dating Violence mungkin agak asing di telinga kita. Kita lebih sering mendengar perihal kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak, dan kekerasan terhadap perempuan. Sebelum mengenal bentuk kekerasan, kita perlu mengetahui pengertian pacaran atau dating terlebih dahulu.

Pacaran atau dating ialah interaksi yang ‘saling’ (dyadic), termasuk di dalamnya adalah mengadakan pertemuan untuk berinteraksi dan melakukan aktivitas bersama dengan keinginan secara eksplisit dan implisit untuk meneruskan hubungan setelah terdapat kesepakatan tentang status hubungan mereka saat ini.

Kekerasan dalam pacaran atau Dating Violence menurut The American Psychological Association adalah ancaman atau tindakan untuk melakukan kekerasan kepada salah satu pihak dalam hubungan berpacaran, yang mana kekerasan ini ditujukan untuk memperoleh kontrol, kekuasaan, dan kekuatan atas pasangannya, perilaku ini bisa dalam bentuk kekerasan emosional, fisik dan seksual.

Kekerasan verbal dan emosional adalah ancaman yang dilakukan pasangan terhadap pacarnya dengan perkataan maupun mimik wajah.

Menurut Murray, kekerasan verbal dan emosional terdiri dari:

1. Pemanggilan nama yang berkonotasi negatif, contohnya: gendut, jelek, malas, bodoh, dll

2. Intimidating looks (menunjukkan ekspresi wajah kecewa tanpa mengatakan sesuatu sehingga pasangan hanya mengetahui perasaan pasangan lainnya melalui ekspresi wajah)

3. Menggunakan pager dan telepon selular. Contohnya, seseorang memberikan ponsel kepada pacarnya supaya dapat mengingatkan atau tetap bisa menghubungi pacarnya sesering yang ia mau. Kemudian, ia (yang memberikan atau melarang menggunakan alat komunikasi tersebut) akan marah apabila ada orang lain menghubungi pacarnya (meskipun orangtua dari pacarnya itu) karena mengganggu kebersamaan mereka. Ia bahkan harus mengetahui siapa yang menghubungi pacarnya dan mengapa orang tersebut menghubungi pacarnya.

4. Membuat pasangan menunggu telepon. Maksudnya, berjanji akan menelepon pasangan pada jam tertentu, tetapi sang pacar tidak menepati janji. Janji menelepon tersebut menyebabkan si pasangan tidak berinteraksi dengan keluarga dan temannya karena menunggu.

5. Memonopili waktu pasangan. Korban dating violence cenderung kehabisan waktu untuk melakukan aktivitas dengan teman atau untuk mengurus keperluannya, karena mereka selalu menghabiskan waktu bersama dengan pacarnya.

6. Membuat pasangannya gelisah. Seringkali orang yang melakukan dating violence memanggil pacarnya dengan mengkritik, dan mereka mengatakan bahwa semua hal itu dilakukan karena mereka sayang pada pacarnya dan menginginkan yang terbaik untuk pacarnya. Padahal mereka membuat pacar mereka merasa tidak nyaman. Ketika pacar mereka terus menerus dikritik, mereka akan merasa bahwa semua yang ada pada diri mereka buruk, tidak ada peluang atau kesempatan untuk meninggalkan pasangannya.

7. Menyalahkan pasangan (Blaming), contohnya menuduh pasangan selingkuh

8. Manipulasi atau membuat dirinya tampak menyedihkan. Misalnya: mengatakan bahwa pasangannya ialah satu-satunya orang yang mengerti dirinya, atau dirinya akan bunuh diri jika tidak bersama pacarnya lagi.

9. Mengancam

10. Menginterogasi, contohnya menanyakan dimana pacarnya berada sekarang, siapa yang bersama mereka, berapa orang laki-laki atau wanita yang bersama mereka, atau mengapa mereka tidak membalas pesan mereka.

11. Mempermalukan pasangan di depan umum

12. Merusak barang-barang berharga milik pasangan

Kekerasan Seksual adalah pemaksaan untuk melakukan kegiatan atau kontak seksual, sedangkan pasangan mereka tidak menghendakinya. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Hamby, Sugarman, & Boney-McCoy (dalam Heatrich & O`Learry, 2007) menunjukkan bahwa pria lebih sering melakukan tipe kekerasan ini dibandingkan wanita.

Menurut Murray, kekerasan seksual terdiri dari:

1. Pemerkosaan

2. Sentuhan yang tidak diinginkan

3. Ciuman yang tidak diinginkan

Kekerasan fisik adalah perilaku yang mengakibatkan pacar terluka secara fisik, seperti memukul, menampar, menendang dan sebagainya. Wanita juga melakukan kekerasan tipe ini dengan pasangannya akan tetapi konsekuensi fisik yang dihasilkan tidak begitu berbahaya seperti yang dilakukan pria terhadap wanita.

Kekerasan fisik terdiri dari:

1. Memukul, mendorong, membenturkan. Tindakan ini merupakan tipe kekerasan yang dapat dilihat dan diidentifikasi, perilaku ini diantaranya adalah memukul, menampar, menggigit, mendorong ke dinding dan mencakar baik dengan menggunakan tangan maupun dengan menggunakan alat. Hal ini menghasilkan memar, patah kaki, dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan sebagai hukuman kepada pasangannya.

2. Mengendalikan, menahan. Misalnya menggengam tangan atau lengan pasangan terlalu kuat supaya tidak pergi darinya.

3. Permainan kasar. Contohnya: pukulan. Pukulan dijadikan sebagai permainan dalam hubungan, padahal sebenarnya pihak tersebut menjadikan pukulan-pukulan ini sebagai taktik untuk menahan pasangannya pergi darinya. Ini menandakan dominasi dari pihak yang melayangkan pukulan tersebut.

Faktor-faktor yang menyebabkan kekerasan dalam pacaran:

1. Faktor individual. Misalnya: usia yang muda, berada pada level ekonomi yang rendah, memiliki prestasi akademis yang rendah, serta seseorang yang sering mengobservasi ibunya yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga

2. Riwayat kekerasan di dalam keluarga

3. Penggunaan alkohol

4. Gangguan kepribadian

5. Faktor dalam hubungan

6. Faktor komunitas

Ciri-ciri orang yang memiliki kecenderungan melakukan kekerasan dalam pacaran:

1. Rendahnya self esteem atau self image yang buruk

2. Toleransi yang rendah terhadap frustrasi (sehingga menciptakan kemarahan dan kekerasan)

3. Mood yang sering berubah-ubah

4. Mudah marah

5. Kecemburuan yang berlebihan

6. Terlalu posesif (takut kehilangan pasangan)

Sumber: Youtube
www.000webhost.com